Merelakan
Tabik, apa kabar? Kalo aku lihat,
kamu semakin bahagia akhir-akhir ini. Selamat ya! Jika kamu bertanya kabarku,
aku juga baik-baik saja. Ya, sekarang aku baik-baik saja. Awalnya sih engga. Apalagi
disaat kamu pergi tanpa memberikan penjelasan. Apa yang salah? Apa aku berbuat
salah? Kenapa semuanya tiba-tiba berubah? Segala pertanyaan menyerangku
bertubi-tubi. Seolah-olah, segala penyebabnya adalah aku.
Disaat aku sibuk dengan
pernyataan kenapa? Ada sesosok malaikat yang datang memberikan aku jawaban dari
setiap pertanyaan. Sesosok baik hati itu datang dengan segala rasa bersalah. Karena
menurutnya, hal yang dia sampaikan akan membuatku sakit hati. Malaikat itu
kemudian menceritakan semuanya. Seketika, pandanganku gelap, kepalaku
berdenyut. Ah tuhan, apakah malaikat ini sedang mencabut nyawaku?
Ternyata, alasan dia pergi bukan
karena kesalahanku. Melainkan, karena ada orang baru. Ada rasa lega sebenarnya
dalam hati. Setidaknya, aku bisa melangkah ke depan dengan gagah tanpa
memiliki rasa bersalah. Pada awalnya, aku berpikir untuk berlabuh ke beberapa
hati. Berusaha menunjukkan bahwa yang aku punya bukan hanya kamu. Tapi, apalah
dayaku. Aku tidak bisa mempersilahkan hati baru untuk masuk, disaat hatiku
terluka. Karena aku tidak mau ada hati yang tidak bersalah, ikut terluka. Dan
aku tidak pandai bersiasat tentang hal itu.
Akhirnya aku memilih untuk fokus
kepada diriku sendiri, membangun kembali resolusi, dan merealisasikan mimpi. Aku
tidak berusaha mencari perhatianmu lagi, tidak juga mengharapkan belas
kasihanmu. Karena sekarang, semua tentangmu sudah ku simpan rapi dalam kata
ikhlas dan dalam bentuk kenangan. Hanya saja, maaf jika saat namamu terucap,
masih menjadi sumber senyuman paling indah, yang membuat hati membuncah. Karena
dalam perjalanan melupakan, menghapus nama adalah hal tersulit yang harus
dilakukan.
Episode setelah kamu pergi adalah episode panjang tentang belajar melanjutkan hidup. Aku kira bernafas tanpa mu hanya sebuah
kemustahilan. Namun ternyata salah, aku masih bernafas sampai sekarang. Bahkan
saat ini, setiap nafas yang aku rasakan, terasa jauh lebih berarti. Dan aku
sangat mensyukuri itu.
Aku sadar, akan sangat sia-sia
jika nafas yang aku punya hanya digunakan untuk bersedih dan sibuk mencari
pembelaan atas apa yang terjadi. Egois sekali rasanya jika hidupku dihabiskan
untuk merenungi diri sendiri. Oleh karena itu, aku berjanji pada diri sendiri,
akan selalu membagikan tawa, sekecil apapun itu, pada setiap orang yang
membutuhkan kebahagiaan.
Di paragraf terakhir ini, aku ingin berterima kasih kepadamu. Karenamu, aku jadi lebih bisa mensyukuri hidup. Aku harap kamu juga begitu. Tetaplah menjadi orang baik, yang besar hatinya, dan yang bermanfaat untuk sekitar.
Komentar
Posting Komentar