Tahun ke-4

Ramadhan tahun ini, adalah Ramadhan ke-4 sejak kakekku lengser dari jabatannya membacakan bilal shalat tarawih. Kakekku mewariskan jabatanya kepadaku. Tahun pertama tentunya tahun terberat. Mungkin bagi sebagian orang menganggap, tugas ini adalah hal sepele, tapi tidak bagi aku yang belum pernah mengenyam pendidikan di pesantren.

Aku harus menghapal Bahasa Arab yang cukup panjang dan dituntut lancar berbicara kepada banyak orang. Hal ini sedikit terbantu, mungkin karena bapakku dulu mengenyam pendidikan puluhan tahun di pesantren, dan darah itu mengalir di tubuhku. Ya, didaerahku, aku dikenal cukup taat kepada agama, walau sebetulnya tidak terlalu hehe

Lebaran sebentar lagi tiba, dan aku mendapatkan kabar tidak menyenangkan. Bapak tidak bisa mudik lebaran tahun ini. Ini adalah lebaran pertama kami tanpa kehadiran bapak. Tentu suasananya akan jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Dimana, kita sama-sama saling memaafkan dan diakhiri dengan pelukan, kali ini tanpa kehadiran bapak. Setelah itu, kita berziarah ke makam leluhur yang dipimpin langsung oleh bapak, tahun ini tentu hal itu tidak akan terjadi. Setelah berziarah biasanya kami berkumpul di rumah nenek, lalu bersama-sama menyantap masakan nenek yang menurut saya adalah masakan terlejat di dunia. Lagi-lagi, tanpa kehadiran bapak.

Aku benci lebaran tahun ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Kegagalan

Untuk Diriku di Masa Depan