Terimakasih 2021

Saya kira hal-hal berat akan berakhir di tahun ini, tetapi kenyataannya tidak demikian. Dalam hidup saya, 2021 lebih mengagetkan ternyata. Tahun yang ternyata lebih berat dari tahun sebelumnya. Tahun dimana saya harus melakukan suatu tindakan agar bisa sembuh. Tahun dimana salah satu hal yang saya impikan harus kandas. Tahun yang melatih mental. Tahun yang memberi banyak pelajaran, baik tentang menerima, maupun melupakan. Tahun dimana isi kepala saya berbenturan dengan orang yang menafkahi saya. Hingga tahun dimana saya harus kuat untuk menahan semua omongan kejam yang menyerang saya.

Tidak mudah memang, dan dalam perjalanannya sayapun tak jarang melepas air dari kelopak mata. Hal yang wajar, karena selalu ada ketenangan selepas melepas air yang entah terbuat dari apa itu. Bukan hal yang salah, bukan juga hal lemah. Terkadang menangis adalah obat dari segala hal yang dianggap sudah diluar batas untuk dihadapi.

Mempertahankan idealisme ya harus tahan banting. Itu resiko. Dan saya menerima itu. Karena bagi saya, selagi masih ada waktu dan kesempatan, tidak ada salahnya mengejar keinginan. Ditahun ini saya berusaha mengejar idewalisme, dan ini sedikit bertentangan dengan ayah saya. Ibu saya mendukung, meski sedikit mengingatkan yang katanya kita harus sedikit relistis, kalo full idealis bisa mati. Omongan ibu ada benarnya juga, ah ibu terimakasih. Mungkin  aku harus mulai mendengarka keinginan orang tua, bukan hanya egois memikirakan keinginanku sendiri.

Beri aku waktu untuk membuktikan semuanya. Beri aku waktu, aku akan membuktikan bahwa aku dapat lebih membahgiakan kalian dengan caraku sendiri. Aku cuma butuh waktu dan do’a kalian. Lalu, kalian tinggal menunggu hari itu tiba. Hari dimana kita sama-sama tersenyum bahagia mengingat semua yang telah kita lewati bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun ke-4

Tentang Kegagalan

Untuk Diriku di Masa Depan