Jatinangor di Bulan April

17 April 2021

Aku terbangun dengan penuh antusias, hari yang dinanti akhirnya tiba. Pagi yang cukup sejuk di bulan ramadhan, namun suara pupujian di masjid menghangatkan segalanya. Setelah merapihkan ranjang peristirahatan, aku bergegas membasuh diri, kemudian mengisi perut untuk pondasi puasa hari ini. Tidak lama setelah selesai sahur, adzan pun berkumandang. Aku lantas menjalankan kewajiban-nya, lalu berdo’a tentang apa yang akan aku lakukan hari ini agar diberi kelancaran. Tas yang sudah aku siapkan semalam kembali dicek, memastikan bahwa semua barang yang diperlukan telah ada di dalam tas.

Sekitar pukul 08.10 bus membawaku pergi. Ditemani lagu-lagu Efek Rumah Kaca yang aku putar di earphone, bus melaju dengan cepat. Sesekali, aku merekam eskrim vanilla yang tumpah ruah di atas sana. Setelah beberapa menit melaju, kernet bus berjalan menuju kursi-kursi penumpang dan akhirnya tiba di kursiku.

“Mau kemana a?”

“Cileunyi pak” ucapku sambil membenarkan posisi duduk dan melepas earphone yang menempel di telinga.

Berhubung bus yang aku naiki tergolong bus premium, kernet bus kemudian berkata.

“Di abimah rada awis a, pami hoyong mirah, kuabi aa diturunken di Warung Lahang, teras aa engke lanjut naek angkot” kurang lebih artinya seperti ini: disini sedikit mahal, kalau mau murah nanti diturunkan di Warung Lahang, kemudian lanjut naik angkot.

Dikarenakan takut terlambat, aku memutuskan untuk tetap di bus ini dan menerima konsekuensi dengan membayar lebih mahal.

“Gapapa pak di sini aja” lantas membayar uang yang disebutkan kernet bus.

Sebenarnya bukan tidak mau naik angkot, tapi situasi kali ini berbeda. Aku berpacu dengan waktu, setidaknya kalau naik bus tidak akan ngetem lagi dan mengantisipasi agar datang tepat waktu. Setelah sekitar satu jam naik bus, aku akhirnya tiba di Cileunyi, dan melanjutkan perjalanan dengan naik angkot menuju tujuanku.

Aku sudah membuat janji sebelumnya dengan temanku untuk bertemu di gerbang. Dan siapapun yang sampai duluan, harus menunggu salah-satu dari kita sehingga kita masuk berbarengan. Dan tempat yang aku tuju kali ini adalah Universitas Padjadjaran, kampus impianku. Rencananya aku akan melakukan tes SBMPTN di sana. Bisa dibilang SBMPTN pertamaku ini minim persiapan. Bagaimana tidak, aku terlanjur berharap lebih di SNMPTN, dan saat pengumuman, ternyata hasilnya merah. Aku ditolak, dan tanpa cukup belajar, aku memberanikan diri untuk ikut tes SBMPTN. Alasannya cukup sederhana,  “Lebih baik gagal saat mencoba, daripada selamanya bertanya-tanya” mengutip dari buku Catatan Juang karya Fiersa Besari.

Setelah beberapa menit di dalam angkot, aku akhirnya tiba di gerbang Universitas Padjadjaran. Dan ternyata, aku sampai duluan, otomatis harus menunggu temanku yang katanya, motornya mogok dan sedang diperbaiki di bengkel. Hadeuhh. Aku kemudian duduk di kursi halte, lalu membuka social media. Keadaan saat itu virus corona sudah mulai terkendali, namun kita sebagai peserta tes tetap diwajibkan untuk mentaati protokol kesehatan.

Tidak lama setelah saya membaca informasi di social media, datang seorang pria paruh baya berusia sekitar 50-60 tahun menghampiriku. Dengan keadaan kebingungan dan membawa tas gendong di punggungnya ia kemudian berkata.

“Boleh ikut duduk de?”

“Boleh pak, silahkan”

Aku bergeser sedikit kesamping, memberi tempat untuk pria paruh baya itu duduk. Kemudian ia bertanya dari mana dan maksud tujuanku datang kesini untuk apa. Lalu aku menjelaskan, dan dia pun dengan tulus mengaamiinkan maksudku. Kemudian aku bertanya.

“Bapak sendiri, dari mana?”

“Bapak dari Sukabumi de,” ucapnya.

“Kenapa bapak bisa ada di sini?”

Dengan kepala tertunduk, ia kemudian menjelaskan “Rencana awalnya bapak mau ikut kerja, tapi saat berhenti di daerah Tanjung Sari untuk sholat, bapak ditipu oleh orang yang rencananya akan membawa bapak kerja. Bapak ditinggalkan. Bapak udah nyoba beberapa kali jalan kaki, tapi malah balik lagi ketempat ini. Nyoba nanya keorang, tapi malah dikira mau berbuat jahat, bapak bingung de, bapak ingin pulang” pungkasnya dengan suara seolah menahan tangis.

“Udah berapa hari disini pak?”

“Bapak lupa de, kira-kira sekitar lima hari”

“Terus bapak tidur di mana? Makan gimana?” tanyaku dengan penuh penasaran.

“Bapak tidur di Masjid, kalo di masjid dikasih makanan ya makan, kalo engga palingan minum air keran”

“Astagfirullah, bapak hari ini puasa?”

“Insyaallah puasa de”

“Kalo gakuat jangan maksain pak, nih aku ada madu sedikit” aku lantas memberikan madu kemasan yang sebelumnya telah dikeluarkan dari dalam tas, rencana awalnya madu itu akan dijadikan makanan buka puasa, jaga-jaga saat buka puasa nanti masih di perjalanan.

“Engga usah de”

“Gapapa pak, ini untuk buka puasa bapak nanti”

“Makasih banyak ya de”

Kemudian aku mengeluarkan uang dari dalam tas “Ini untuk bapak pulang, maaf kalo sedikit”

“Gaperlu de” ucapnya sambil berusaha mendorong tanganku yang menyodorkan uang.

“Udah ambil aja pak, semoga bisa sedikit meringankan dan bapak bisa bertemu kembali dengan keluarga”

“Terus ade gimana?”

“Aku masih ada pak”

“Yaudah makasih banyak ya de, semoga urusan ade dimudahkan oleh Allah SWT, dan tesnya dilancarkan, sekali lagi maksih banyak ya de” ucapnya sambil menempelkan uang yang telah aku beri ke keningnya dengan penuh syukur.

“Iya pak sama-sama, aamiin yaallah.”

Ponselku kemudian berdering, aku kemudian beranjak dari tempat duduk dan sedikit menjauh dari halte, nama “Malikah Ayu Komara” tertera di layar.

“Halo, Kamu dimana?”

“Aku dari tadi di halte, kamu dimana?”

“Aku udah di dalam, sini masuk”

“Astaga kan janjiannya di gerbang”

“Udah sini masuk pake bus unpad, gratis”

“Jemput dong, aku gatau bus nya yang mana”

“Tinggal sebutin mau ke gedung apa ke satpam, nanti bakalan diarahin kok”

“Yaudah tunggu bentar, jangan kemana-mana!”

Aku kemudian meninggalkan halte dengan bergegas, sampai lupa untuk berpamitan ke bapak tadi, bahkan menanyakan nama juga aku tak sempat. Semoga sehat selalu ya pak, dan semoga saat ini bapak sudah berkumpul lagi bersama keluarga. Oiya pak, aku belum berhasil lolos di unpad tahun ini, dan rencananya tahun depan akan mencoba lagi. Aku mau minta do’a bapak sekali lagi, semoga bapak berkenan mendo’akan.

Dan ada cerita unik setelah aku selesai tes. Dikarenakan sudah terlalu sore dan sudah hampir buka puasa, aku memutuskan untuk naik ojek dari unpad ke Dangdeur berharap bisa sedikit lebih cepat dibanding naik angkot. Aku banyak bercerita dengan pengemudi ojek itu yang kira-kira berusia 35 tahun. Yang katanya juga, ia pernah bertanding volly ke daerahku. Dan dikarenakan kita cukup se-frekuensi, akhirnya pengemudi ojek itu meminta nomor ponselku dan menuliskannya di uang yang aku berikan sebagai bayaran karena telah mengantarkanku. Dan sampai saat ini, aku belum menerima telepon/chat dari orang yang mengatasnamakan ojek yang pernah mengantarkanku kala itu. Mungkin ia lupa telah membelikan uang yang berisi nomorku itu dan belum sempat menyimpannya. Entahlah, intinya semoga tahun depan kita bisa bertemu kembali ya bang, hahaha.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun ke-4

Tentang Kegagalan

Untuk Diriku di Masa Depan